Posts

Showing posts with the label puisisakapalay

Nurani

Image
Malam ini aku merasa sedih Mungkin karena aku terlalu lama diacuhkannya Sudah berbagai cara aku gunakan untuk menarik perhatiannya Sepertinya ia terlalu hebat untuk memperhatikanku Aku disini dalam gelap Sebagian aku malah semakin terkikis tipis Apa engkau ingin aku hilang saja? Tertiup angin ketidakpedulianmu? Lihat, sekarang kau mulai gelisah tak menentu Wajahmu terlihat hampa Semangatmu mulai meredup Sudahkah engkau sadari kondisiku saat ini? Aku semakin terpuruk disini! Kenapa kau masih saja bodoh untuk segera memedulikanku? Jika aku hilang pada akhirnya, rasakan saja sendiri akibatnya! Haa... menangis juga kau! Sekarang, segera sentuh air yang mengalir Biar luruh semua tembok penghalang itu Luruskan kening dan kedua lututmu Cium tempat kembalimu Dan meminta maaflah... Bandung, 4 oktober 2011 11:54 pm *Picture taken from here

Bisikan Cinta Sang Angin

Image
Kenapa harus mengingat pekatnya Ketika tiupan mesranya menyilaukan mata Hingga kelembutan itu menjadikan hati lepas dari raga Dan membuatnya menari terus dengan riang gembira Ingatkah ketika hembusan dingin itu Menyejukkan panas yang semakin membara? Kemudian membelai lembut wajah Ketika ia berbisik halus akan kecintaannya Setiap akal kembali segar Setelah lelap diperaduan Kenapa harus kembali hitam yang terekam? Tak ingat kah engkau dengan berjuta perhatiannya? Berjuta kebaikannya Berjuta kelembutannya Berjuta kasih sayangnya Atau akan hangat belaiannya Harum pelukannya Lembut ciumannya Beserta kata-kata cintanya yang tak pernah bosan diumbar Hanya karena ingin bersaing dengan bermilyar-milyar bintang dilangit Bukan kah tiupan mesra itu telah kembali hadir Ketika gelombang besar pernah menghantam Dan menghilangkannya untuk seketika Seakan tersesat diantara ombak besar Tapi ia kembali pada akhirnya Senyum dan tatapan lembut itu telah kembali Untuk ditelusuri setiap ia terlelap ...

Merah si Mawar Berduri

Image
Aku melihatnya bukan dengan sengaja Terlihat anggun dan begitu elegan Membuat orang melirik terpesona dengan keangkuhannya Tapi aku.. cukup tahu diri untuk tidak mendekatinya Atau bahkan menikmati pesonanya Tapi ia.... entah kenapa memilih ku... Sebagai pendampingnya Dan ia pun tampil semakin pongah Ditengah kemegahannya sebagai bunga yang dipuja "Kau duduk diam saja disitu Temani aku mewarnai hari para pengagum ku" Begitu ucap mu suatu saat Menatap tingkah polah mu setiap detik Semakin memahami bahwa pada dasarnya engkau bunga yang rapuh Kesepian ditengah riak ketenaran Hingga akhirnya aku melihat Air mata merembes membasahi kelopak merah mu Aku terpana melihat kesepian yang bergulir dimata mu Sebegitu tertekan kah dirimu diantara berjuta perhatian itu? Tapi merah mu membuat silau setiap mata Hingga mereka tak peduli dengan luka mu Dan ya... kau masih begitu elegan ditengah kegalauan itu Kau tersipu mengetahui aku mencoba merengkuh mu "Aku cukup hebat untuk meneri...

Memeluk Hujan

Image
Mulanya terasa gerah Inginnya berada didalam lautan salju Seolah terperangkap dalam sebuah dosa Jangan harap bisa bernyanyi didalamnya Berteriak hanya akan menjadi satu-satunya jalan Ketika datang ia disesali Tak jarang pula orang berkeluh kesah Bahkan ada yang membencinya Sedikit orang yang memahaminya "Ah.. kenapa kau harus datang?' "Kau tahu? Ini bukan waktu yang tepat" "Pintu belakang ada disana, tepat dibelakang mu" "Dan kenapa kau harus berada dihadapan?" "Bagus...pergilah dengan tenang..." Tidak.. tunggu.. bukan begitu caranya... Kau tidak harus memedulikakan semua omong kosong itu Kau terlalu indah untuk dihiraukan Terlalu cantik untuk diabaikan Hening itu hanya bisa ku temukan ketika kau menari Noo... bukan sebuah tangisan yang ku inginkan Bernyanyilah... hanya untuk ku Lelapkan setiap hati yang lelah Menarilah hingga kau merasa puas Ah...sudah lah berhenti terseok-seok tak tentu arah Kemarilah... biar ku peluk dirimu dalam ...

Menggenggam Matahari

Image
Rasanya panas terkadang membara Seandainya saja diperbolehkan memeluk bulan   Meski terasa hampa dan kasar Sekiranya masih bisa terasa senyap dan tenang atau mungkin dingin Meski hanya sekejap Dalam teriknya sinar matahari Ku lihat wajah orang-orang Yang dulu selalu nampak lembut Hari itu terlihat keras bahkan terlalu sangar Diantara topeng kepedulian Dan panas itu semakin membuat silau Hingga air mulai meleleh dari ujung mata Jangan meminta ku untuk memakai topeng itu Hanya akan terlihat bego dan bodoh Silahkan manfaatkan saja topeng itu untuk diri kalian sendiri Aku cukup puas dengan tempat ku berdiri saat ini Dan sekarang matahari pun harus ku genggam Demi sebuah kehormatan dan kasih sayang Yang selalu digembor-gemborkan What a hell.... lakukan sajalah apa yang kalian ingin kan Aku cukup kuat untuk menaruh panas itu diatas jari-jari ku Bahkan jika harus ku peluk, akan aku lakukan! Tidak peduli sampai kapan ia harus ada digenggaman Meski perih mulai ku rasakan Tapi ku yakin...

Aku Ingin Berjalan ke Barat Waktu Pagi

Image
Mencoba mengumpulkan puisi-puisinya Sapardi Djoko Damono . Searching di Embah Google , hasilnya banyak sekali. Dari puluhan puisinya beliau saya pilih beberapa yang saya suka. Menurut saya, puisi mempunyai interpretasi masing-masing pembacanya. Bisa jauh malah artinya dengan yang dimaksud penulisnya sendiri. Dari sekian banyak puisinya beliau, saya suka dua puisi ini. Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari Waktu aku berjalan ke barat diwaktu pagi Matahari mengikutiku dibelakang Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri Yang memanjang didepan Aku dan matahari tidak pernah bertengkar tentang siapa Diantara kami yang telah menciptakan bayang-baya ng Aku dan bayang-bayang tidak pernah bertengkar tentang siapa Diantara kami yang harus berjalan didepan Aku Ingin Aku ingin mencintaimu dengan sederhana Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu Kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan Kepada hujan yang menjad...

Ketika Aku Benci Kamu!!!

Image
Jangan harap kita bercanda lagi Sudah cukup kata-kata manis yang membuat ku muak Tak ada lagi senyum manis Sudah enggan aku melihat wajah mu Inginnya aku tonjok saja wajah mu Mendengar nama mu saja bikin aku mual Ku berharap saja semoga Tuhan membalas lebih Atas apa yang telah kamu perbuat terhadap ku Jadi berlalu lah Jangan halangi episode ku Inginnya begitu..... Tapi.... tidak Hatiku terlalu berharga untuk dipenuhi dengan kebencian Aku tak ingin Lucifer dan kawan-kawan terbahak-bahak Melihat kebodohan ku Aku justru ingin mereka yang menjeratku Tercekik dengan tingkah laku mereka sendiri Jadi ketika aku membenci mu Aku doakan semoga Tuhan lebih menyayangi mu Juga lebih sering memeluk mu Dan ketika engkau merasakan kehangatan Nya..... Ku harap engkau ingat pada ku. Diriku yang sedang belajar

Dan Aku pun didalamnya

Ku rasakan kaki ku terjebak dalam lumpur Begitu pekat dan hitam Ingin aku terlepas dalam kubangan itu Tapi semakin aku berontak, lumpur itu semakin mengikat kaki ku Terlihat hanya sebagai genangan biasa Layaknya sepenggal kehidupan dalam hidup setiap manusia Tapi dalam dan hitam begitu ku coba lewati Ah.. mungkin Tuhan melihat banyak dosa dalam diri ku Sehingga ingin mencucinya sampai bersih, sebersih bersihnya Dan mungkin... jika sampai waktunya nanti Semoga Aku layak untuk masuk dalam barisan Kekasih Nya Harusnya aku biarkan saja si hitam lumpur itu berlalu dalam episode ini Ingin berteriak sekuat apapun memohon pertolongan Aku pikir itu hanya buang tenaga saja Biar ku sampaikan saja semua peluh ini kepada Nya Tak usah ngotot ataupun berteriak Karena Tuhan tidak bisu dan tuli Yah.... ku biarkan sajalah dia mengikat ku atau bahkan ingin menenggelamkan ku Karena ku yakin Tuhan ada bersama ku... Nuju Ngacapruk!!!

Kata untuk seorang sahabat

Image
Aku merindukan mu... Ketika aku jauh dari mu Ketika hanya untuk sekedar mencari teman ngobrol tidak mudah aku dapatkan Atau ketika aku melihat buku-buku berjajar menunggu untuk diajak ngobrol Aku merindukan mu... Ketika kau bilang "Keur naon maneh?" ketika aku curhat dan kau bilang "Nu kitu wae dipikiran!" Atau ketika kau mengatakan "Keur jangar urang!" Masih ingatkah engkau saat-saat dulu Ketika masa isi KRS ku bilang "Urang menta nilai maneh lah??!!" Dan kau bilang "Kumaha carana atuh?" Atau ketika akhirnya dengan segala kekurangan nilaiku Aku lebih duluan lulus darimu  Kau masi ingat? ketika akhirnya kita terdampar dalam sebuah perkumpulan Yang membuka mata kita akan dunia baru tentang Islam Terjebak dengan segala kemunafikannya Sampai aku memutuskan untuk berhenti Dan kau masih bertahan karena tugas yang masih kau emban Dan aku hanya bisa tertawa!!! Masa-masa kisah remaja pun tak luput kita lewati Ketika kita sama-sama berkata ...